Rabu, 19 Oktober 2011

Vaksin Malaria Ditemukan

Pembuatan vaksin Malaria hingga kini belum ada yang berhasil alias selalu gagal. Padahal vaksin ini diperlukan untuk mencegah ganasnya malaria di banyak negara yang kadang menimbulkan kematian. Tapi perkembangan percobaan vaksin malaria terbaru menunjukkan hasil yang menjanjikan.

Setiap tahun, di seluruh dunia terdapat sekitar 225 juta orang menderita malaria dengan angka kematian sekitar 800.000 jiwa terutama pada anak-anak di Afrika.


Malaria disebabkan oleh parasit yang disebut Plasmodium, yang ditularkan melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi. Dalam tubuh manusia, parasit berkembang biak dalam hati dan kemudian menginfeksi sel darah merah.

Pengobatan yang tepat dan efektif untuk malaria adalah yang berbasis artemisinin dengan terapi kombinasi. Namun, pencegahan malaria tetap lebih baik jika dibandingkan dengan pengobatan penyakit tersebut maka itu terus diusahakan pembuatan vaksinnya.

Kabar terbaru dari percobaan vaksin malaria ini telah menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam uji klinis di Afrika. Dalam uji coba itu, bayi yang diberi vaksin prototipe dapat menurunkan sekitar setengah risiko terjangkit malaria dibandingkan dengan bayi yang tidak divaksin.

Vaksin yang dikenal sebagai RTS, S adalah salah satu dari dua vaksin malaria eksperimental yang sedang diuji di seluruh dunia. Penelitian tersebut dilakukan selama 1 tahun dan telah melibatkan lebih dari 15.000 anak yang berusia di bawah 18 bulan. Penelitian tersebut telah diterbitkan dalam The New England Journal of Medicine.

Percobaan vaksin malaria tersebut telah dilakukan pada 7 negara di Afrika. Pada penelitian telah dibagi menjadi 2 kelompok bayi yang berusia 6-12 minggu dan bayi berusia 5-17 bulan.

Satu tahun kemudian, ada sekitar setengah jumlah kasus malaria pada kelompok anak-anak yang diberikan vaksin, dibandingkan dengan anak-anak dalam kelompok kontrol yang menerima vaksin untuk penyakit lainnya.

"Data hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa telah ditemukan vaksin malaria pertama di dunia," kata Andrew Witty, ketua British pharmaceutical company seperti dilansir dari BBCNewsHealth, Rabu (19/10/2011).

Vaksin tersebut telah dikembangkan bersama lembaga non-profit PATH Malaria Vaccine Initiative. Pada penelitian vaksin malaria tersebut telah melibatkan tim internasional yang terdiri dari puluhan ilmuwan dari Afrika, Amerika Serikat dan Eropa.

"Hasil awal menunjukkan bahwa RTS, S/AS01 menurunkan setengah risiko malaria pada anak usia 5-17 bulan selama 12 bulan setelah vaksinasi. Selain itu, vaksin tersebut berpotensi untuk memiliki dampak penting pada pemberantasan malaria pada anak-anak di Afrika," kata para peneliti.

Hasil pemberian vaksin pada bayi yang lebih muda masih dianalisis. Para ahli kesehatan dunia mengatakan vaksin tersebut kurang efektif jika dibandingkan dengan vaksin yang lain untuk infeksi umum seperti polio dan campak, dan biaya vaksin malaria tersebut juga belum jelas.

Tsiri Agbenyega, seorang peneliti utama dalam uji vaksin di Ghana mengatakan vaksin malaria tersebut akan memberikan kontribusi pada pengendalian malaria daripada tidak menggunakan vaksin sama sekali.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan kemajuan yang dicapai pada perkembangan vaksin malaria termasuk luar biasa untuk dapat memerangi penyakit
tersebut. Dengan penggunaan vakin malaria tersebut dapat terjadi penurunan hampir 20 persen dalam jumlah kematian di seluruh dunia selama 10 tahun terakhir.

Sebuah pengujian dan pembahasan vaksin potensial lainnya baru-baru ini menunjukkan hasil yang menjanjikan. Pengujian dan pembahasan tersebut dirancang untuk menguji keamanan.

Namun para peneliti menemukan bahwa 45 anak yang diberikan vaksin MSP3 memiliki tingkat perlindungan tinggi terhadap penyakit tersebut. Hasil pengujian dan pembahasan di Burkina Faso juga telah dipublikasikan dalam The New England Journal of Medicine.

Penelitian vaksin malaria RTS, S tersebut didanai oleh GSK dan PATH Malaria Vaccine Initiative, serta dibantu oleh sumbangan dari Bill dan Melinda Gates Foundation.